Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Agustus 2017

Mantan Presiden ini pernah merasakan jadi petugas upacara HUT RI di Istana Negara

Hari ini kita menyaksikan prosesi upacara peringatan HUT RI ke 72 yang bernuansa baru. Seperti pada berita sebelumnya bahwa kesan formil dan kemiliteran yang sangat kental pada peringatan HUT RI yang lalu lalu, hari ini terlihat begitu beda dengan nuansa yang jauh lebih santai, tapi tentunya tanpa meninggalkan protokoler dan prosedur upacara yang seharusnya.

Dalam upacara peringatan HUT RI, presiden bertindak sebagai inspektur upacara, atau kalau pada upacara bendera di sekolah setiap senin, posisi inspektur ini kurang lebih seperti pembina upacara. Jadi dengan keadaan seperti ini setiap Presiden kita mulai dari Soekarno sampai Jokowi akan selalu menjadi Inspektur dalam setiap upacara peringatan HUT RI selama ia menjabat.

Tapi tahukah anda, ternyata diantara 7 presiden Indonesia, 2 diantaranya pernah menjadi petugas upacara di lapangan, ada yang menjadi pembawa bendera, ada yang menjadi komandan upacara. Tentunya tugas ini diemban pada saat mereka belum menjabat menjadi presiden. Siapa sajakah mereka ? Berikut jawabnya.

1. Megawati Soekarno Putri
Megawati pernah menjadi petugas upacara peringatan detik-detik proklamasi, tepatnya pada tahun 1964 saat presiden masih dijabat oleh Soekarno. Beliau lolos seleksi Paskibraka nasional pada saat duduk di bangku SMA Perguruan Tjikini. Paskibraka Nasional waktu itu dilatih oleh ajudan Soekarno Mayor Husein Mutahar. Sang Mayor sendiri sampai saat ini dikenal sebagai Bapak Paskibraka Indonesia, salah satunya karena komposisi pasukan pengibar yang terdiri dari beberapa putra daerah merupakan ide dari Mayor Husein Mutahar

Megawati pada upacara peringatan detik-detik proklamasi tahun 1964 bertugas sebagai pembawa baki Bendera Pusaka. Berbeda dengan anggota paskibra perempuan saat ini yang potongan rambutnya hanya diperbolehkan beberapa centi di bawah telinga, pada saat itu Megawati malah memiliki rambut panjang sepinggang  yang dikuncir dan dikepang satu.

tampak rambut panjang Megawati saat bertugas. foto : Dok. Kompas

Mungkin kita merasa.. Ah sang presiden kan Ayahnya sendiri, pasti itu karena permintaan ayahnya. Ya anggapan seperti itu memang wajar mengingat dua tahun setelahnya, yaitu pada upacara HUT RI terakhir Soekarno tahun 1966, pembawa baki bendera pusaka kembali jatuh ke tangan putri Soekarno yang lain yaitu Rahmawati. Namun satu hal yang perlu dicatat, kalaupun itu semata karena permintaan Soekarno, sejarah mencatat bahwa Megawati melakukan tugasnya dengan baik saat menjadi pembawa baki Bendera Pusaka, yang mana tugas ini bukanlah tugas yang gampang.

Megawati saat menerima bendera pusaka dari Soekarno. foto : twitter @kemenpora_ri

2. Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden ke 6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono atau lebih dikenal dengan SBY juga pernah menjadi petugas upacara pada peringatan HUT RI ke 49 atau tepatnya pada tahun 1994. Saat itu, SBY yang masih berpangkat Kolonel dan menjabat sebagai asisten operasi Kodam Jaya mendapatkan tugas sebagai komandan Upacara.

SBY saat menjadi komandan upacara 17 Agustus . foto :Istimewa/Facebook

Dalam sebuah tulisan di halaman Facebooknya pada tahun 2015 SBY mengenang saat tugasnya tahun 1994 tersebut. "Tugas Sederhana tapi Beresiko Besar" begitu tulisnya. Betapa tidak demikian, sekalipun  tugas baris-berbaris merupakan hal yang biasa bagi seorang kolonel seperti SBY. Bahkan sudah menjadi napas seorang prajurit, karena dilakukan secara rutin setiap hari. Namun beda halnya dengan saat itu. 

"Tugas ini tetap saja (memiliki) risiko besar, dan penuh tekanan. Kalau berhasil, perwira yang bersangkutan akan tetap menempati jabatannya. Tapi bila gagal, karier militernya akan kelabu," ungkap SBY. 

Disaksikan langsung Panglima tertinggi ABRI saat itu Jenderal (Purn) Soeharto, karir militer SBY dipertaruhkan. Syukur akhirnya dia berhasil memimpin upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI saat itu dengan lancar. 

Bahkan bisa dibilang karir beliau ikut lancar sampai ke puncak tertinggi sebagai presiden Indonesia sekaligus Panglima Tertinggi Tentara Nasional Indonesia
--

Itulah 2 mantan presiden kita yang pernah merasakan suasana tegang di tengah lapangan pada peringatan detik-detik Proklamasi Republik Indonesia tercinta ini. Bukan tidak mungkin salah satu petugas dari upacara hari ini di Istana Negara kelak akan menjadi pemimpin nomer satu di Indonesia. Mungkin...!

Rabu, 12 April 2017

Hari Ini Dalam Sejarah - Yuri Gagarin Menjadi Manusia Pertama yang Berada di Luar Angkasa

12 April 1961 sebuah pesawat ruang angkasa bernama Vostok 3KA-3 (Vostok 1) diluncurkan dari Kosmodrom Baykonur, sebuah fasilitas peluncuran ruang angkasa milik Uni Sovyet. Pesawat ini membawa Yuri Gagarin, seorang kosmonot kebanggaan Uni Sovyet.

Yuri Gagarin saat berada di Swedia. Foto : Wikipedia

Vostok 1 diluncurkan sekitar jam 06.07 waktu Moskow, dan sukses mencapai orbit 11 menit kemudian. Pesawat ini berhasil mengelilingi mengorbit selama 108 menit (1 jam 48 menit), menjadikan sang kosmonot sebagai manusia pertama yang terbang di luar angkasa.

Model pesawat Vostok 1. Foto : wikipedia

Berbicara mengenai sosok Yuri Gagarin, yang tentunya menjadi kebanggan Uni Sovyet (sekarang Rusia), dia juga menjadi inspirasi bagi banyak orang di belahan dunia, tak terkecuali presiden pertama kita Ir. Soekarno. Sekitar tahun 1964 Presiden Soekarno memerintahkan seorang pemahat untuk membuat Monumen Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Patung Pancoran. Patung ini akhir-akhir ini kembali viral karena foto wajahnya dari deikat. Pembuatan monumen ini terinspirasi dari prestasi dari Yuri Gagarin.

Patung Pancoran dari dekat. Foto : Dok. Rudy Sunandar
Menurut sejarawan LIPI, Asvi Warman seperti yang dikutip BeBagi.com dari Detik.com,  dengan pembangunan patung itu Bung Karno ingin menyampaikan pesan agar anak muda mempunyai kemampuan seperti Yuri Gagarin. Tak hanya patung, saat berkunjung ke Uni Sovyet Bung Karno juga memberikan penghargaan Medali Mahaputra pada Yuri Gagarin.

Senin, 27 Maret 2017

Hari ini Dalam Sejarah - Musibah Tenerife, Kecelakaan Pesawat Terbang Terbesar dalam Sejarah


Sore itu 27 Maret 1977 di saat cuaca tidak begitu bersahabat, dua buah Boeing 747 akan melakukan take off dari bandara Tenerife, Kepulauan Canaria, Spanyol. Pesawat PanAm penerbangan 1736 dibawah kendali Kapten Victor Grubbs dan Pesawat KLM Penerbangan 4805 di bawah kendali Kapten  Jacob Veldhuyzen van Zanten sebelumnya dialihkan ke bandara ini setelah sebelumnya ada kejadian bom di toko bunga di bandara tujuan semula di Las Palmas.


 PanAm Boeing 747 serupa dengan yang terlibat kecelakaan. Foto : Wikipedia
Pesawat KLM Boeing 747 yang terlibat kecelakaan. Foto : Wikipedia
Rupanya Pesawat PanAm 1736 dan KLM 4805 ingin segera meneruskan perjalanan ke Las Palmas. Keduanya akan melakukan take off di satu-satunya landasan terbang di bandara Tenerife. Pesawat KLM 4805 melakukan take off tanpa izin dari Air Traffic Controller di saat PanAm 1736 sedang menyebrangi landasan yang sama untuk bersiap berangkat. Dari video kronologi terlihat bahwa Kapten  Jacob Veldhuyzen van Zanten sang pengendali KLM 4805 bersikeras untuk segera melakukan take off karena ingin segera menyelesaikan perjalanan ke tujuan akhir, yang rupanya hal ini belum mendapat izin dari Air Traffic Controller.

Saat pilot KLM 4805 akan mempercepat laju pesawatnya, rupanya terlihat di depan Pan Am 1736 sedang menyebrangi landasan yang sama. Menyadari hal tersebut Sang Kapten memaksa pesawatnya untuk take off, namun nahas, baru mencapai ketinggian 100 kaki, pesawatnya sudah terlalu dekat dengan PanAm 1736 sehingga tabrakan mengerikan pun tak terhindarkan. Korban berjatuhan.

Peta sederhana dari landasan pacu pesawat di Bandara Tenerife, bintang merah meunjukkan lokasi kecelakaan. Foto : Wikipedia

Terhitung dari kejadian tersebut, jumlah korban tewas dari pesawat KLM adalah semua 234 penumpang dan 14 awaknya, sedangkan dari pesawat PanAm 9 dari 16 awak tewas dan 265 dari 317 penumpang tewas. Tingginya jumlah korban menjadikan musibah ini sebagai kecelakaan pesawat terbesar sepanjang sejarah.

Investigasi menunjukkan bahwa, selain usaha take off pesawat KLM tanpa izin Air Traffic Controller (ATC), kecelakaan tersebut disebabkan oleh kebingungan pilot kedua pesawat oleh instruksi ATC, yaitu masalah bahasa, di mana logat Spanyol kental ATC membingungkan pilot, serta pilot KLM juga tidak menggunakan bahasa standar penerbangan dalam komunikasi dengan ATC (bersifat ambigu, sehingga membingungkan ATC). Selain itu, peralatan komunikasi serta peralatan darat lain juga tidak memadai untuk mengawasi pergerakan pesawat. Kondisi ini diperparah oleh kabut tebal yang melanda daerah itu pada hari musibah tersebut.

Berikut BeBagi.com tayangkan video Kronologi terjadinya kecelakaan, lengkap beserta kesaksian dari para korban yang selamat.


Sumber, gambar dan video : Wikipedia, Go Flight Medicine, Youtube